Senin, 05 Desember 2011

Surat kepada bapak Presiden Republik Indonesia


Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Bapak Presiden Republik Indonesia yang kami hormati, 
Sebagai manusia,sebagai rakyat biasa,sebagai rakyat kecil, sebagai masyarakat Aceh dan sebagai warga Negara Republik Indonesia tentunya kami juga sangat mendambakan kehidupan yang layak sebagai manusia seutuhnya. Setelah puluhan tahun kami hidup dalam ketakutan, kesedihan dan kesengsaraan barulah sejak diumumkannya perjanjian damai (MoU Helsinki) pada 15 Agustus 2005 kami mulai bisa bernafas. Pengumuman MoU Helsinki itu, meski kami sebagai rakyat biasa tak terlalu memahami isinya, kami sambut dengan hati yang berbunga-bunga.Tentunya dengan harapan kami dapat hidup tenteram,nyaman dan damai.
Bapak Presiden nyang kami hormati,
Belum terlalu lama kami menikmati suasana damai hidup di tanah kelahiran, belum lagi kering tanah kuburan saudara-saudara kami yang hilang ketika badai konflik melanda Aceh puluhan tahun lamanya dan belum lagi mekar bunga-bunga yang tumbuh pasca MoU Helsinki, tiba-tiba badai pilkada bertiup kencang tak jelas arah, mengguncangkan hati kami.
Banyak media, baik lokal maupun nasional bahkan luar negeri, hampir saban hari memberitakan persoalan pilkada Aceh yang sampai dengan hari ini masih saling diperdebatkan., seakan-akan sudah tak ada lagi persoalan yang lebih penting di negeri ini. Padahal kami sebagai rakyat kecil di propinsi ujung barat Republik ini (entahlah kalau di daerah lain), untuk bisa menyalakan kompor memasak saja di rumah kami sering mengalami kewalahan. Betapa tidak, setelah minyak tanah dinaikkan harga dan sulit ditemukan, sekarang bahkan gas elpijipun sering mengalami sulit didapat. 

Belum lagi persoalan-persoalan lainnya yang harus kami hadapi. Kalau persoalan pelayanan publik, terutama pelayanan kesehatan yang kadang membuat kami sebagai rakyat kecil sangat terhina, mungkin tak perlu kami ceritakan. Karena yang sangat perlu untuk kami sampaikan sekarang ini bahwa kisruh berkepanjangan masalah pilkada telah membuat banyak pihak seakan-akan lupa mana yang lebih utama, telah membuat banyak orang seakan-akan kekuasaan lebih penting daripada saudara dan seakan-akan politik itu harus ditempuh dengan jalan kotor untuk mencapai tujuannya.
Bapak Presiden yang kami hormati,
Sebagai rakyat kecil, sebagai masyarakat awam, kami tidak mengerti apakah penting atau tidaknya ruang bagi calon independen itu terbuka dalam pilkada Aceh. Kami tidak mengerti apa kerugian bagi rakyat akibat dari ada tidaknya salah satu atau lebih dari partai local yang tidak ikut dalam pilkada Aceh 2011. Kami tidak mengerti apa akibat kalau pilkada tetap berlanjut sesuai waktu yang telah ditentukan atau ditunda. Kami tidak mengerti apakah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang pilkada Aceh 2011sesuai atau tidak dengan UUPA.
Kami tidak mengerti apakah segala putusan MK tentang sengketa pilkada adalah sesuatu hal yang dilandaskan pada kepentingan penegakan konstitusi di Indonesia atau bukan. Kami tidak mengerti apakah Bapak Presiden Republik Indonesia berwenang atau tidak berwenang mengintervensi KPU/KIP.
Namun demikian, Bapak Presiden Republik Indonesia, selaku Pemimpin tertinggi Negara, akhirnya hanya kepada Bapaklah kami sangat mengharapkan kebijakan di atas segala kebijakan lainnya agar persoalan pilkada Aceh jangan sampai membawa kami kembali dalam kesengsaraan seperti yang dulu kami rasakan puluhan tahun. Bagi kami rakyat kecil, bagi kami masyarakat yang awam politik, tenteram, nyaman dan damai adalah dambaan kami. Maka PERDAMAIAN lebih penting daripada PILKADA.
Demikianlah, surat ini kami tulis dengan tinta airmata dalam suasana hati yang galau. Dengan harapan doa kami terkabulkan agar kesejahteraan dan kemulian bagi semua rakyat dan para pemimpinnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.